UNESCO: Budaya Membuat Kota Lebih “Aman dan Kuat”

Dalam sebuah perbincangan dengan seorang rekan pengusaha real estate yang tertarik masuk ke bisnis gedung pertunjukan musik, tercetus obrolan bahwa budaya akan tergerus karena pembangunan. Saya menyangkalnya, karena membangun justru seharusnya berdasarkan budaya, sehingga pembangunan jadi relevan dengan tempat yang dibangun. Hal tersebut tidak bisa ditawar.

Agenda untuk Pembangunan yang Berkelanjutan

UNESCO, organisasi PBB yang mengurusi bidang pendidikan, sains dan budaya menerbitkan laporan “Global Report, Culture: Urban Future”, yang menyarankan bahwa kota sebaiknya secara sistematis mempromosikan budaya dalam rencana pembangunan kota. Laporan ini juga melengkapi tujuan PBB untuk mencapai Agenda for Sustainable Development, yang berniat untuk memastikan “kota-kota yang inklusif, aman, berdaya tahan, layak tinggal dan berkelanjutan” di seluruh dunia.

Menurut UNESCO, akan ada 41 mega cities di tahun 2030, yang masing-masing berpenduduk setidaknya 10 juta orang. Urbanisasi skala masif seperti itu sering menimbulkan masalah dan biasanya menciptakan kawasan kumuh, sulitnya akses ke ruang publik, dan berakibat buruk bagi lingkungan. Dalam prosesnya juga akan menciptakan pengangguran, ketidakadilan sosial, diskriminasi dan kekerasan. Menurut penemuan yang dinyatakan di laporan tersebut, langkah terbaik untuk mencegah efek-efek negatif itu adalah mengintegrasikan komponen budaya pada strategi pembangunan sejak awal secara menyeluruh.

Pelajaran lewat Studi Kasus

Lewat lebih dari 100 studi kasus, laporan ini dibuat melalui survei yang menganalisa situasi, resiko dan potensi kota dalam berbagai konteks kewilayahan yang relevan, dengan ketertarikan khusus pada benua Afrika dan Asia, di mana urbanisasi diharapkan bertumbuh sangat cepat di dekade-dekade mendatang.

“Budaya berada di jantung pembaruan urban dan inovasi. Laporan ini menyajikan pandangan yang mendalam dan bukti nyata yang menunjukkan kekuatan budaya sebagai aset strategis untuk menciptakan kota yang lebih inklusif, kreatif dan berkelanjutan, ” tulis Irina Bokova, Director-General UNESCO dalam laporan tersebut, menekankan bahwa “budaya memberikan kota kekuatan sosial dan ekonomi”, terutama dengan bantuan dari industri kreatif.

Sebagai contoh nyata, laporan mengangkat Shanghai, RRC, yang mendapat status sebagai Unesco “City of Design” sejak 2010. Kota dengan populasi metropolitan terbesar keenam dengan 23 juta orang, yang sekarang menjadi salah satu pusat kreativitas dunia, dengan 7,4% penduduknya bekerja di industri kreatif.

Kota-kota yang sedang dalam situasi konflik, maupun paska konflik, seperti Samarra di Irak, yang menghadapi masalah hancurnya situs-situs budaya akibat perang, juga menjadi studi kasus yang menarik, karena mendapat manfaat yang serupa lewat budaya. “Upaya rekonstruksi dan rehabilitasi situs budaya yang hancur menunjukkan kemampuan budaya untuk menanamkan kembali kerekatan sosial antar komunitas dan membuat lingkungan tempat tinggal, membuka lebar pintu untuk dialog dan rekonsiliasi”, demikian tertulis di laporan.

Laporan ini juga menggunakan studi kasus dari kota musik seperti Medellín (Kolombia) dan Adelaide (Australia).

Indonesia: Pekalongan Kota BATIK

Sementara itu dari Indonesia, ada Kota Pekalongan yang juga masuk ke UNESCO Creative City Network sebagai “City of Crafts and Folk Art”. Pekalongan memiliki pengalaman integrasi budaya dengan rencana pembangunan kota yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Saya terjemahkan dari laporan:

Pekalongan, adalah sebuah kota pelabuhan di Jawa Tengah, Indonesia, yang telah lama dikenal sebagai pusat Batik. Pakaian ini secara tradisi dibuat menggunakan tangan di tempat-tempat produksi yang dikelola turun temurun dan industri desa skala kecil. Mereka yang tumbuh besar di Pekalongan pada abad 21 tidak melihat kegiatan magang di tempat membatik sebagai hal yang menarik. Anak muda modern ingin bekerja di profesi lain di bidang seperti komputer atau sains.

Para pemimpin dan penentu kebijakan kota memutuskan bahwa masa depan Pekalongan bukanlah pencarian industri baru. Namun memperkuat kerajinan yang telah membuatnya populer selama ini: batik. Sebuah gedung bersejarah pun dijadikan museum batik. Wali Kota mengeluarkan peraturan yang mewajibkan batik diintegrasikan sebagai konten lokal pada kurikulum sekolah negeri, yang dibuat sejalan dengan kerangka pendidikan nasional.

Dimulai dari 1 sekolah di tahun akademik 2005-2006, program tersebut hanya membutuhkan 3 tahun untuk mencapai seluruh 230 sekolah di Pekalongan, dari tingkatan Taman Kanak-kanak hingga SMA. Anak muda mendapat pengertian baru tentang keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat Batik. Hal tersebut menimbulkan rasa hormat yang baru pada pelaku, sekaligus meningkatnya ketertarikan pada berkarir di bidang Batik, yang sekarang kembali dipandang sebagai pekerjaan yang terhormat. Pelatihan khusus juga disediakan pada sekolah kejuruan, yang bisa bermanfaat bagi murid yang ingin menjadikan membuat batik sebagai pekerjaan dan karir. Politeknik Pekalongan juga membuat program D3 untuk Batik, dan ada juga gelar yang lebih tinggi sebagai spesialis batik.

Rencana pembangunan jangka panjang kota Pekalongan 2005-2025 dibimbing oleh visi: ‘Pekalongan, kota BATIK: Bersih, Aman, Tertib, Indah, Komunikatif’. Visi tersebut melihat seni, keahlian, budaya dan ekonomi batik sebagai potensi terhebat, juga lokomotif dan motor penggerak roda pembangunan Kota Pekalongan. Saat ini, anak muda penduduk Pekalongan semakin percaya bahwa mereka dapat bekerja di bidang yang terhormat dan mendapat pemasukan yang cukup tanpa harus pindah ke kota lain yang lebih besar di Indonesia.

Well done, Pekalongan!

Kesimpulan

Singkat kata, para penulis laporan mengidentifikasi tiga prioritas untuk kota yang memiliki ragam budaya, aman dan bertumbuh:

  1. Kota yang berbasis manusia adalah sebuah tempat yang berdasar budaya
  2. Lingkungan kota yang berkualitas juga dibentuk oleh budaya, sehingga…
  3. Kota-kota yang berkelanjutan butuh mengintegrasikan kebijakan pembangunan kota berdasarkan budaya.

Untuk mencapai tujuan tersebut,“Global Report, Culture: Urban Future” juga membuat 12 rekomendasi sebagai berikut:

  1. Kembangkan kelayakan hidup kota dan lindungi identitasnya.
  2. Pastikan berlangsungnya keterlibatan sosial lewat budaya.
  3. Promosikan kreativitas dan inovasi di pembangunan kota lewat budaya.
  4. Bangun budaya dialog dan inisiatif penciptaaan kedamaian.
  5. Bantu perkembangan ragam penggunaan dalam skala manusia dan belajar dari praktek konservasi kota.
  6. Promosikan pembangunan layak tinggal dan lingkungan hidup.
  7. Kembangkan kualitas ruang publik lewat budaya.
  8. Perbaiki ketahanan kota lewat solusi berbasis budaya.
  9. Perbaharui kota dan hubungan kota-desa dengan mengintegrasikan budaya pada inti perencanaan kota.
  10. Bangun budaya sebagai sumber daya berkesinambungan untuk ekonomi terbuka dan pengembangan sosial.
  11. Promosikan proses yang melibatkan banyak pihak lewat budaya dan kembangkan peran komunikasi pada pengelolaan level lokal.
  12. Kembangkan model keuangan budaya yang inovatif dan berkesinambungan.

Tautan Terkait

  • Untuk membaca lebih lanjut tentang rekomendasi dari UNESCO, silahkan klik tautan ini.
  • Untuk membaca laporan “Global Report, Culture: Urban Future” secara menyeluruh silahkan unduh melalui tautan ini.
  • Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program PBB untuk pengembangan berkelanjutan silahkan klik tautan ini.

, , , ,

No comments yet.

Leave a Reply