Mengukur Kontribusi Ekonomi Musik Terhadap Negara

UK Music adalah payung organisasi yang mewakili kepentingan kolektif industri musik komersial dari mulai artis, musisi, penulis lagu hingga komposer, perusahaan rekaman, manajer, penerbit, produser, organisasi lisensi musik dan pertunjukan musik. Untuk itu, UK Musik melakukan berbagai kegiatan, salah satunya melakukan penelitian dan hasilnya diterbitkan sebagai laporan yang bisa diakses siapa saja.

Salah satu penelitian yang dilakukan adalah mengukur kontribusi musik terhadap ekonomi negara, yang diterbitkan dengan nama “Measuring Music“. Laporan ini telah diterbitkan setiap tahun sejak tahun 2012, jadi sekarang mereka sudah memiliki informasi dari 4 tahun penelitian dengan metodologi yang sama.

Penambahan tahun ini adalah bertambahnya responden menjadi 1.400 musisi (dari 250 tahun sebelumnya) dan kerjasama dengan Music Venue Trust untuk melakukan survey pada 5.000 pengunjung venue musik di seluruh Britania Raya.

“Measuring Music 2016” melaporkan hasil berikut:

  • Tahun 2015 industri musik berkontribusi £4.1 milyar lewat perhitungan GVA (Gross Value Added: biasanya lebih kecil dibanding GDP karena tidak merekam pendapatan pajak, jadi seringkali lebih akurat untuk mengukur hasil kegiatan ekonomi dari sisi produsen dan konsumen).
  • Tersedia 119,020 pekerjaan full-time di industri musik. Kebanyakan dari mereka adalah individu yang bekerja di jantung kreativitas musik; yaitu membuat komposisi, mencipta, merekam dan tentunya membentuk masa depan dari musik itu sendiri. Musisi, komposer, penulis lagu, penampil (atau performer) dan penulis lirik tersebut berkontribusi £2 milyar.
  • Sementara itu ekspor musik berkontribusi £2.2 milyar. Berarti ini lebih dari setengah total GVA dari industri dalam negeri,
  • Pertumbuhan ekspor musik di sektor pertunjukan adalah 35%. Ini dipacu oleh tumbuhnya sektor pariwisata musik sepanjang tahun. Ada 767.000 turis musik dari luar negeri yang menghadiri konser musik dan festival yang menghasilkan£1.1 milyar.
  • Penjualan ekspor akan rekaman musik pun naik 8.9% disebabkan kesuksesan global artis British seperti Adele, Coldplay, Ed Sheeran dan Sam Smith. Pada tahun 2015, 1 dari 6 album terjual di seluruh dunia adalah artist British, sementara itu 5 dari 10 penjualan album terbanyak di dunia adalah artis British.
  • Kesuksesan album Adele “25” juga mendorong ekonomi. Album tersebut telah terjual lebih dari 20 juta keping seluruh dunia sejak dirilis pada 20 November 2015, yang berarti sudah mendapat sertifikat 10x Platinum di Britania Raya.

Pencatatan Ekonomi Musik di Indonesia

Sektor musik telah ditetapkan sebagai Sektor Prioritas oleh Badan Ekonomi Kreatif RI. Yaitu badan negara yang mengurusi pengembangan industri musik. Akhir bulan November lalu saya diminta jadi salah satu narasumber di sebuah focus group discussion yang diprakarsai Deputi Riset Bekraf. Tujuan FGD tersebut adalah pemaparan hasil estimasi Badan Pusat Statistik mengenai perkembangan sub-sektor industri kreatif musik oleh lembaga riset dari Departemen Ekonomi Universitas Padjajaran.

Setelah pemaparan, narasumber diminta masukan untuk perkembangan sektor musik, pendapat tentang prospek sektor musik di masa depan, dan apa peran pemerintah yang diharapkan sektor musik.

Untuk mulai membahas, ada baiknya mengetahui ruang lingkup dan pengelompokan usaha-usaha yang masuk ke sektor musik di Indonesia menurut pemerintah:

  1. KLBI: 18201. Rincian: Reproduksi rekaman suara dan piranti lunak.
  2. KLBI: 59201. Rincian: Perekaman suara.
  3. KLBI: 59202. Rincian: Penerbitan musik dan buku musik.
  4. KLBI: 79990. Rincian: Jasa reservasi lainnya.
  5. KLBI: 85420. Rincian: Pendidikan kebudayaan.
  6. KLBI: 90001. Rincian: Kegiatan seni pertunjukan.
  7. KLBI: 90002. Rincian: Kegiatan pekerja seni.
  8. KLBI: 90003. Rincian: Jasa penunjang hiburan.
  9. KLBI: 77295. Rincian: Aktivitas penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi alat musik.

Catatan:

Jangan tanya bagaimana kelompok-kelompok usaha tersebut masuk ke klasifikasi industri musik karena saya juga tidak punya jawabannya.

Estimasi dari BPS tentunya berdasarkan klasifikasi industri di atas. Sayangnya, banyak informasi yang janggal, yang tidak mungkin tidak dikomentari oleh narasumber, termasuk saya. Misalnya:

  • Tidak ada penjelasan metodologi.
  • Data ketenagakerjaan tahun 2010 sangat diragukan, karena turun hampir 80% ke tahun 2011. Sementara itu revenue hanya turun tidak sampai 10%.
  • Kenaikan (atau penurunan) PDB relatif tidak mewakili keadaan supply dan demand yang sebenarnya karena ada elemen penghasilan pajak. Jika pada tahun tersebut ada peningkatan tax governance, yang otomatis meningkatkan penghasilan pajak, maka seolah penghasilan sektor meningkat. Padahal tidak.
  • Tidak ada breakdown per kelompok industri. Padahal informasi tersebut sangat penting.
  • Tidak ada penjelasan kategori ekspor dan produk musik apa yang diekspor. Dari 10 negara tujuan ekspor terbanyak tidak ada evidence bahwa produk musik terkait terkena dampak baiknya. Misalnya jika produk rekaman terjual banyak di Singapura, Jepang dan Belgia, apakah ada kelompok musik yang diundang untuk tampil di sana.

Dan pertanyaan-pertanyaan saya tidak mendapat jawaban dari tim yang melakukan studi. Mudah-mudahan sebenarnya ada jawabannya, hanya tim yang mewawancara tidak tahu. Meski sebaiknya, tim yang meawancara seharusnya mengerti masalah dan bisa memberikan argumentasi dari pemaparan mereka sendiri.

Belajar dari Measuring Music

Prinsip yang paling mendasar dalam penelitian adalah menghasilkan informasi yang valid dan reliable. Untuk itu, ada banyak yang bisa dipelajari dari Measuring Music, terutama metodologinya:

  • Measuring Music merupakan laporan yang diterbitkan oleh dan atas nama UK Music. Laporan ini sangat penting untuk UK Music karena mereka mewakili kepentingan kolektif industri karenanya mereka memiliki komitmen untuk melaksanakan penelitian secara rutin.
  • Semua asosiasi dagang anggota UK Music ikut berpartisipasi menyumbang data dan akses kepada anggotanya untuk berpartisipasi dalam survei.
  • Projek penelitian dipimpin oleh Chief Economist dari perusahaan konsultasi yang khusus untuk budaya dan ekonomi kreatif, BOP Consulting, sehingga memiliki pengetahuan praktek-praktek terbaru dari lapangan.
  • Bekerjasama dengan universitas Oxford yang memiliki portfolio riset yang kuat, terutama di bidang ekonomi kreatif dan sektor-sektor terkait, sebagai peer reviewer. Jadi validasi data dan informasi berlapis.
  • Menentukan Indikator Kunci yaitu: GVA, Ekspor dan Ketenagakerjaan
  • Memiliki langkah metodologi yang jelas dan akurat:
    • Pertama: Mendefinisikan industri dan mengidentifikasi kegiatan ekonomi industri musik.
    • Kedua: Mengidentifikasi dan mengkuantifikasi sumber-sumber penghasilan yang relevan.
    • Ketiga: Mengukur kontribusi ekspor dari identifikasi dan kuantifikasi transaksi antara bisnis atau artis British dengan bisnis dan konsumen dari luar negeri.
    • Keempat: Mengukur kontribusi kekaryawanan dari kegiatan ekonomi industri musik.
    • Kelima: Hasil kuantifikasi penghasilan ditransisikan menjadi estimasi GVA.
    • Keenam: Hasil disajikan berdasarkan segmen industri.
  • Tantangan metodologi diperbaiki terus:
    • Tantangan Definisi: apakah sudah mendefinisikan dengan benar?
    • Tantangan Data: apakah sudah mengumpulkan data seakurat mungkin, berdasarkan definisi?
    • Tantangan Teknis: apakah sudah menggunakan data dengan baik untuk mengukur kontribusi ekonomi?
  • Memaparkan dokumen metodologi dengan lengkap agar bisa terus dipertanyakan oleh publik.

Dan terakhir, yang tak kalah penting adalah penyajian hasil penelitian yang menggunakan grafis yang cerdas, menarik dan mudah dimengerti. Tidak seperti website BPS yang sangat berantakan dan tampak jelas tidak mengikuti akidah usability yang baik. Bagaimana bisa informasi begitu penting disajikan dengan cara yang begitu buruk?

Kesimpulan

Lewat informasi yang lengkap dan hasil penelitian yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan, pemerintah dan stakeholder terkait dapat mengambil keputusan-keputusan penting untuk menentukan arah perkembangan sektor musik, dalam hal ini di Indonesia. Sebagai sektor unggulan, ada baiknya kita mulai dengan data yang baik untuk mengelola sektor musik dan menuju masa depan yang lebih terarah dan terukur.

 

, , , ,

3 Responses to Mengukur Kontribusi Ekonomi Musik Terhadap Negara

  1. Theresia Ebenna Ezeria 21/12/2016 at 10:03 am #

    Riset harusnya selalu jadi bagian awal dari pembuatan kebijakan. Sayangnya negara ini belum terbiasa dengan perspektif itu. Semoga ada sudut pandang baru dengan adanya Metode Pengukuran Musik dari UK Music ini ya, Bro. Amin.

    • Robin Malau 21/12/2016 at 10:53 pm #

      Yes. Itu salah satu tujuannya nulis ini sih. But we’ll be getting there, Ter. Hanya perlu ngotot aja terus, seperti yang biasa kita rutin lakukan. 😀

      • I do trust all the ideas you have presented in your post. They are very convincing and can certainly work. Nonetheless, the posts are very short for beginners. Could you please prolong them a bit from next time? Thanks for the post.

Leave a Reply