Tentang Wali Kota Musik

Wali Kota Musik

Siapa orang di balik Wali Kota Musik?

Robin Malau. Dia adalah orang yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di industri musik Indonesia, dan telah membangun band dan perusahaan yang berkali-kali mendapat award hingga tingkat internasional. Karena pengalamannya, dia menjadi orang Asia pertama yang diundang untuk berbagi pengalamannya di konferensi yang membahas hubungan antara kebijakan kota dan pengembangan musik “Music Cities Convention“.

Tentang Website Wali Kota Musik

Ekosistem musik di negara ini perlu dibenahi. Permasalahannya, “membenahi ekosistem musik” tampak seperti langkah egois yang natural untuk aktivis musik seperti saya. Ya iyalah…

Tapi ternyata tidak. Memiliki ekosistem musik yang ideal tidak hanya menguntungkan musisi, aktivis musik dan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan musik saja. Tapi ini untuk kepentingan banyak orang. Bahkan manfaatnya tidak terbatas hanya secara ekonomi, tapi juga budaya, politik dan sosial. Sudah banyak bukti yang mendukung klaim ini, dan mereka yang memanfaatkannya sudah merasakan… Manfaatnya.

Tantangan di Indonesia

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana membenahi ekosistem musik di Indonesia? Sebelum masuk ke ranah teknis, ada baiknya menyepakati bahwa Indonesia itu negara yang besar. Sangat besar. Bahkan SANGAT BESAAAAARRR bangetsekalipisan.

Saya pernah melihat gambar peta Indonesia dan yang ditaruh di atas peta benua Eropa. Ternyata besarnya hampir sama. Sebagai perspektif, Uni Eropa punya 24 bahasa resmi dan negara Britania Raya punya sekitar 40+ bahasa. Sementara itu, di Indonesia ada 707 bahasa yang aktif dipakai penduduk yang tersebar di lebih dari 17,000 pulau, lebih dari 300 suku bangsa, 34 provinsi, 101 kota dan 415 kabupaten. Indonesia itu negara besar dengan berbagai kebutuhan pasar yang spesifik. Menggunakan bahasa manajemen (dan pemasar malas yang menganggap Indonesia itu 1 pasar besar yang seragam): Indonesia itu kompleks sekali.

Lantas… Bagaimana dong cara membenahinya?

Kota Musik

Muncullah sebuah gagasan yang dikenal dengan Kota Musik. Ceritanya dimulai dari sebuah kota bernama Nashville di Amerika Serikat. Di kota tersebut ekosistem musiknya sehat sehingga membuat musisi dan bisnis hidup dan berkembang. Itulah yang menjadi definisi Kota Musik yang paling mendasar, yaitu tempat yang ekonomi musiknya hidup dan berkembang. Manfaat dari adanya ekosistem musik yang sehat ternyata terasa sekali di sana, termasuk manfaat-manfaat ekonomis, terjadinya pariwisata musik, penciptaan tenaga kerja (khususnya untuk anak muda), berkembangnya ekonomi malam hari, kemampuan bersaing secara global hingga pembentukan merek kota yang spesifik dan kuat.

HEY! Jadi kota mana yang tidak mau berkembang seperti Nashville?

Mungkin tidak ada yang tidak mau. Untuk memperkuat klaim tersebut, saya bisa sebut kota-kota di dunia dari 5 benua yang sudah mengemulasi (sebagian atau seluruh) strategi kota musik, seperti yang diimplementasikan di Nashville. Sebut saja Bogota, Gothenburg, Brighton, Liverpool, Glasgow, Toronto, Aarhus, Copenhagen, Berlin, Johannesburg, Helsinki, Melbourne, Adelaide, Sydney, Paris, Angers, Bologna, Ghent, New Orleans, Chicago, San Fransisco, New York dan Amsterdam.

Strategi Kota Musik

Penasaran bagaimana implementasinya di Indonesia, saya mulai melakukan studi bersama rekan saya di Musikator. Sebagai studi kasus, saya menemukan bahwa bisnis pertunjukan musik di kota Bristol tahun 2015, sebuah kota kecil di Britania Raya, bisa memberikan kontribusi sebesar £123 juta (atau sekitar Rp 2,5 trilyun, dengan nilai tukar pra-Brexit), kurang lebih setara dengan total kontribusi ekonomi seni pertunjukan di Indonesia (BPS, 2013). Sementara itu di San Fransisco, 80 juta konsumen kehidupan malam membelanjakan uang sebesar $4,2 milyar atau sekitar 60 trilyun rupiah setiap tahunnya.

Dari studi yang saya lakukan itu pula saya mendapat kesimpulan bahwa Strategi Kota Musik akan sangat natural jika diimplementasikan di Indonesia. Mengapa? Sebab:

  1. Pengembangan ekosistem kota-per-kota adalah strategi paling masuk akal mengacu pada kerumitan masalah sosial, politik dan ekonomi di Indonesia.
  2. Trend perkembangan wilayah bisnis bukan lagi negara (atau hanya dari sudut pandang politis lagi) tapi konektivitas antar kota (dalam format kota, megacities and megaregion) seperti diungkap tuntas pada teori Connectography dari Parag Khana.
  3. Mengutip Graham Henderson dari Music Canada, “No single city has figured everything out”, maka kota-kota di Indonesia pun akan menghadapi tantangan dalam memilih strategi yang paling cocok untuk kebutuhan masing-masing kota. Ini akan menghasilkan peluang kreativitas yang tidak terbatas.

Jaringan Global

Lewat hubungan baik dengan British Council Music yang sudah berlangsung cukup lama, saya bisa berkenalan dan masuk ke jaringan ahli kota musik dari 5 benua yang berbagi di Music Cities Convention 2016. Lebih dalam lagi, saya bisa berpartner dengan konsultan strategi kota musik global bernama Sound Diplomacy untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. Jadi sekarang saya punya sumber yang metodologinya sudah teruji di seluruh penjuru dunia, dicampur dengan pengetahuan lokal yang saya miliki lewat pembelajaran lebih dari 20 tahun.

Visi Wali Kota Musik

Sekarang, pertanyaan kunci yang perlu di jawab adalah:

  1. Bagaimana mendefinisikan Kota Musik di Indonesia?
  2. Mengapa banyak kota dari seluruh bumi yang berhasil mengimplementasi strategi kota musik, bagaimana mereka melakukannya?
  3. Apa strategi yang cocok untuk membangun Kota Musik di Indonesia?

Untuk menjawab ke-3 pertanyaan itulah saya membuat website ini. Agar saya punya media yang dapat diakses siapa saja, kapan saja, dari seluruh pelosok tanah air yang membutuhkan informasi apa itu Kota Musik, bagaimana kota-kota yang sudah berhasil melakukannya, apa saja bentuk manfaat untuk masyarakat kota, dan bagaimana perkembangan strateginya.

Penutup pembicaraan ketika terakhir saya bertemu dengan Shain Shapiro, CEO dari Sound Diplomacy di salah satu sudut kota Brighton, saya bilang visi saya adalah, “I want to give music credits it deserves“. Shain sepakat, dan kamipun bersalaman. Music is dead, long live music! \m/

 

-Robin Malau, founder @walikotamusik